Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Refleksi Sumpah Pemuda, Rekonsiliasi pemuda

Gambar
Meskipun sudah 93 tahun berlalu, Sumpah Pemuda tetap relevan untuk kita refleksikan bersama mengingat kondisi dan permasalahan bangsa, khususnya terhadap para pemuda sekarang. Pemuda adalah tonggak sejarah sebuah bangsa. Hal ini diamini oleh Ben Anderson, seorang Indonesianis, dalam bukunya Java in a Time of Revolution: Occupation & Resistance (1944-1946), bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan pemuda.  Sederetan penggerak perjuangan bangsa rata-rata adalah pemuda. Kartini ketika menyuarakan Cri de Coueur (jeritan hati nurani) berusia 20 tahunan. Soekarno juga baru berusia 26 tahun ketika menjadi pemimpin Partai Nasional Indonesia. Tan Malaka mulai aktif di pergerakan saat berusia 16 tahun. Mohammad Hatta belum genap 25 tahun usianya saat mendirikan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Begitu juga Sutomo, Gunawan Mangunkusumo beserta tokoh-tokoh yang lain mendirikan Boedi Oetomo saat berusia 20-25 tahun. HOS Tjokroaminoto saat memimpin Syarikat Islam juga ber...

15 Tahun untuk IMABI dan 93 untuk Pemuda

Gambar
  Selamat datang 28 Oktober. Salam manis dari para penghuni bumi yg tengah mencari jati diri dari suatu rahasia kehidupan. Semua bermula ketika gelap memenuhi jalan kami, lalu datanglah seorang bayi mungil yg dinamai Matahari. Didalamnya bernaung harapan akan kebangkitan dari generasi penerus Bikomi dalam suatu ikatan persaudaraan dalam wajah cintakasih. IMABI, cucu dari bayi mungil sang penerang matahari yg kini menjadi ibu bagi pemuda-pemudi Bikomi.  Mengayomi dan mendidik kami para penerus dengan tangan cinta dan ketulusan. Terimakasih IMABI kami. Terimakasih ibu kami. Tanpa lelah kau tlah menjadi ibu bagi kami yg tersesat saat itu. Berkatmu, kami bangkit untuk mengguncang tanah NTT demi kemakmuran Bikomi, TTU, dan tanah timur tercinta kami. Tetaplah jaya dan trus kibarkan sayap malaikatmu diantara kami dan semua orang disekitar kami..  Tetaplah hidup IMABI. Tetaplah hidup ibu.  Kami mencintai dan menyayangi mu.  Hiduplah sllu dalam dunia fana dan dunia kami....

DILEMA PARA "DIKTATOR"

Gambar
Masyarakat Eropa Barat sudah biasa memisahkan dua ruang dalam hidupnya,yakni ruang publik dan ruang privat. Gaya berpikir semacam ini akhirnya menyebar ke Amerika dan Australia, serta juga menjadi bagian dari kultur mereka. Berkat proses globalisasi, gaya berpikir ini juga menyebar ke seluruh dunia, walaupun tidak seratus persen diterima begitu saja. Di Jerman, ada ungkapan sehari-hari yang menarik untuk menjelaskan obsesi mereka pada ruang privat. Bunyinya begini, das geht Sie nichts an! Yang artinya, itu bukan urusanmu, atau itu tidak ada kaitannya denganmu! Ungkapan ini menegaskan sikap diktator orang-orang Jerman terhadap ruang privatnya. Dalam arti ini, diktator berarti orang yang memiliki kehendak  kuat untuk mengatur segalanya sesuai dengan keinginannya, dan, dalam konteks ini, ruang privatnya. Sementara, untuk konteks ruang publik, ada ungkapan lainnya yang sudah begitu merasuk ke dalam kultur orang-orang Jerman, yakni Ordnung muss sein, yang artiny...